11
Mei...
MUNGKIN banyak
orang yang jika ngomongin tentang suatu hal yang bernama kesetiaan akan langsung teringat dengan sebuah film yang baru-baru
ini menjadi booming di kalangan penikmat film Indonesia yang tidak lain adalah
film yang mengisahkan tentang perjalanan kisah cinta antara presiden ketiga Indonesia dengan
istrinya sendiri yaitu Habibie dan Ainun.
Tetapi
seperti kata dari Raditya Dika yang gue inget “cerita yang bagus emang ada di
film, tapi kisah nyata manusia itu jauh lebih keren, mereka itu kayak buku”.
Membuat gue teringat dengan kisah kesetiaan oleh orang terdekat gue yang menurut
gue, gak kalah dari kisah Habibie dan
Ainun,bukannya gue mau bilang cerita itu jelek, gue tau Habibie dan Ainun
itu diangkat dari kisah nyata, dan gak heran film itu laris dipasaran, mulai
dari yang original di toko kaset, sampe yang bajakan di abang-abang pinggir
jalan.
Oke,
langsung aja. Ini dia cerita dari orang terdekat gue yang gak kalah keren dari
Habibie dan Ainun:
GUE
mungkin bukanlah salah satu dari anak-anak
yang beruntung, yang terlahir dengan kakek dan nenek yang berjumlah
sempurna: dua kakek dan dua nenek. Gue terlahir dengan satu orang kakek dan dua
orang nenek semasa hidup gue, salah satu dari kakek gue udah dipanggil duluan sama
Tuhan saat gue belum lahir.
Ini
tulisan tentang satu-satunya kakek gue, tentang orang yang mengajari gue sebuah
arti kesetiaan kepada orang yang dia cintai semasa hidupnya.tulisan ini buat
kakek, untuk peringatan satu tahun kepergian kakek gue tanggal 11 mei 2012
silam.
Cerita
ini dimulai dari kepergian salah satu dari nenek gue yang tercinta 12 juni 2004
lalu setelah usaha hebatnya melawan kanker, sebuah pukulan besar bagi keluarga
besar gue, terutama untuk kakek dan bokap gue.
Kepergian
nenek gue mengubah drastis hari-hari yang dilalui oleh kakek gue, dia jadi
kayak orang yang gak keurus, bukannya emang gak diurus, tapi karena dia berubah
jadi orang yang susah untuk dikasih tau. Dia cuma takluk dan nurut oleh
kata-kata suruhan almarhumah nenek gue, padahalkan nenek gue udah gak ada.
Romantis? Menurut gue sih enggak. Itu sih laki-laki takut istri namanya hehehe.
(dasar cucu terkutuk)
Dia
(kakek gue) mengingatkan gue dengan kisah Mbah
Maridjan yang gak mau turun dari gunung Merapi saat terjadi erupsi gunung
Merapi. Mbah Maridjan cuma mau turun
kalo Sultan Hamengkubuwono ke IX yang nyuruh dia turun, padahal sultan udah
meninggal lamaaaaaaa banget, pokoknya kalo bukan sultan yang nyuruh dia turun
dia gak mau.
itulah
kemiripan Alm. Kakek gue dengan Alm. Mbah Maridjan yang meninggal karena
menunaikan janjinya untuk menjaga gunung Merapi. mereka sama-sama setia cuma
kalo kakek gue setia sama nenek gue dan Mbah setia sama janjinya untuk menjaga
si gunung.
Nenek
gue meninggal disekitar pertengahan tahun 2004, sedangkan kakek gue di
pertengahan 2012 so.. jarak yang lumayan lama menurut gue sekitar..
*tunggu
lagi ngitung.
.
.
.
.
Nah
sekitar 8 tahunan lah, boleh percaya atau enggak 7 dari 8 tahun itu kakek gue
enggak pernah absen dalam setiap mingu mengunjungi makam nenek gue. Itu berarti
dalam satu bulan dia mengunjungi nenek gue sekitar empat kali, empat puluh
delapan kali dalam setahun, dan Tiga
ratus tiga puluh enam kali dalam tujuh tahun.
mungkin
kebanyakan dari orang-orang sekarang hanya mengunjungi makam keluarga hanya
saat lebaran pas bulan puasa. Itu cuma satu
kali dalam setahun, dan cuma tujuh
kali dalam tujuh tahun. Kakek gue empat puluh delapan kali lipatnya.
Sebuah
hal yang gak aneh saat bunga-bunga di makam nenek gue berganti setiap seminggu
sekali, kakek gue ini tergolong orang yang mempunyai sifat yang ekstrem kalo
dia udah punya mau. Walau hujan atau panas dia harus absen ke makam nenek gue
setiap hari jum’at semasa hidupnya.
Tetapi
tujuh tahun pun berlalu, mungkin karena faktor usia dan tubuh yang menua dia
mulai mengalami sakit-sakit saat tahun kedelapan. Dia menjadi hanya beberapa
kali kemakam nenek gue, dia tetep ngeyel walau udah dilarang sama om dan tante
gue. Sekali lagi, kakek gue cuma nurut sama nenek gue, dan itu penyebabnya.
Gue
pernah diceritain sama nyokap tentang hal ekstrem yang pernah dilakukan kakek
gue saat tahun-tahun terakhirnya. Walau dia sakit, dia akhirnya nekat ke TPU Pondok
Rangon tempat dimana Alm. Nenek gue dimakamkan.
Akhirnya
ditengah jalan saat melewati tanjakkan besar dalam perjalanannya, motor honda
pabrikan tahun 70-an punya dia mengalami masalah serius, pedal rem-nya patah.
Kebayang gimana caranya seorang kakek-kakek penyakitan berumur 76 tahun bisa
selamat pergi ke makam istrinya, dengan motor tanpa rem, dan bisa pulang dengan
selamat sampai kerumah tanpa kehilangan anggota tubuh?. That was amazing buat
gue, hal gila yang dilakuin dia atas dasar kesetiaan itu bener-bener diluar
nalar. Tapi kok bisa? Mungkin itu yang disebut The Power Of Love.
8 tahun
berlalu, akhirnya pada hari itu jum’at 11 Mei 2012, hari dimana dia udah gak
kuat melawan penyakitnya dia pergi buat selama-lamanya, hari dimana harusnya
hari paling bahagia dalam setahun untuk bokap gue, ya.. 11 mei adalah hari
ulang tahun bokap. Tapi dia dapet kado kematian kakek pada hari itu.
Gak ada
yang tau persis gimana kakek gue meninggal, dia meninggal dalam tidurnya.
Padahal semalem dia masih makan malem bareng om dan tante gue, kata tante
gue.pagi hari pas dia cek ke kamar kakek gue, dia (kakek gue) udah gak ada. Gue
masih inget saat itu hari jum’at dan tiba-tiba gue dipanggil ke meja piket saat
gue masih di sekolah. Gue liat bokap dari kejauhan, saat gue samperin dia
bilang kalo kakek udah gak ada.
Kakek gue dikuburin tepat disebelah kuburan
nenek gue, saat nenek gue meninggal dia langsung booking itu tempat disebelah
nenek gue buat dia sendiri. Dan jadilah makam itu bersebelahan sampai sekarang.
Gue
belajar banyak dari dia. yaitu gue belajar untuk setia terhadap janji-janji
yang udah kita ucap. Karena dia mungkin punya janji kepada nenek gue. makanya
gue seneng banget tiap ada film Disney “UP” tentang seorang kakek yang ingin
mewujudkan mimpi istrinya untuk pergi dan punya rumah di atas gunung di Amerika
Selatan, sampe-sampe dia nerbangin rumahnya sendiri pake balon gas. Film itu
ngingetin gue dengan kakek gue.
“Mau
jadi apa cowok yang gak bisa jaga janji, mulut, dan kesetiannya?”
adalah hal tersirat yang gue ambil dari dia, kalimat yang menghalangi cita-cita
gue menjadi playboy, karena gue udah
terkutuk di kutukan keluarga gue.. kutukan untuk cowok yang bakal setia dan
ngelakuin tindakan gila untuk menjaga hal itu.
Gue akan menunggu hal gila versi bokap gue,
dan hal gila versi gue sendiri suatu hari nanti dalam menjaga suatu hal, yang
disebut kesetiaan.
11
Mei 2013.
-Fadh
![]() | |
ini adalah foto saat adek gue (Dio) di makam nenek dan kakek gue tadi.. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar